Kemaliq Makam Batu Bangke
KISAH PERJALANAN TGH. ALI BATU
Penulis : Baiq Eka Dewi Sahrawati
Disuatu waktu, ada seorang pemuda yang sedang mengembara di tengah lautan Samudra Pasifik. Awal perjalanan si pemuda berjalan lancar dan mulus, namun ombak yang begitu tenang dan damai berubah menjadi ganas yang kemudian menghantam perahu yang dinaiki si pemuda. Pemuda itu bernama Mirayang.
Setelah perahunya hancur, Mirayang terus berenang ditengah lautan sampai ia melihat sebuah pohon besar yang anehnya terletak di tengah lautan Samudra Pasifik. Setelah menunggu selama berjam-jam ada seekor burung garuda raksasa melintas di atas pohon di mana mirayang berada, tanpa berpikir panjang mirayang melompat ke arah burung garuda dan berhasil berpegangan di kaki garuda raksasa itu. Burung garuda itu kemudian membawa mirayang sampai di Mesir.
Sesampainya di Mesir ia melihat sebuah sumur di tengah panasnya gurun pasir, mirayang merasa kegirangan akhirnya setelah perjalanan panjang ia pun bisa membersihkan diri.
“wahh….ada sebuah sumur!!! akhirnya aku mungkin bisa mandi di sana” ujar Mirayang.
Namun, setelah mendekati sumur tersebut ia melihat segerombolan burung-burung kecil yang sedang minum dan mandi di sana, namun anehnya burung-burung kecil itu berubah menjadi batu setelah meminum dan mandi di air sumur itu. Mirayang merasa heran dan mencoba mencelupkan jari telunjuknya ke air sumur, alangkah terkejutnya Mirayang melihat jari telunjuknya berubah menjadi batu. Ia merasa takut dan kemudian mengurungkan niatnya untuk membersihkan diri di sumur itu.
Setelah berjalan cukup panjang ia pun sampai di sungai Nil, namun Mirayang bingung bagaimana cara menyebrangi sungai Nil itu, sedangkan sungai itu di penuhi dengan buaya-buaya ganas dan kelaparan. Namun, dengan kecerdikan dan keberanian Mirayang ia melompati setiap punggung buaya dan menjadikannya sebagai jembatan untuk melintasi sungai Nil. Setelah berhasil melewati sungai Nil perjalanan Mirayang ke kota Mesir tinggal sekitar satu kilo meter perjalanan, namun di sana ia melihat ada sebuah segerombolan pasukan raja Mesir. Mirayang merasa senang dan mempercepat langkahnya menuju ke pasukan kerajaan itu, namun tiba-tiba, kuda-kuda perajurit raja ketakutan, mengamuk dan mati seketika. Hal itu dikarenakan Mirayang memakai kulit binatang purba yang sangat di takuti oleh hewan-hewan maupun orang-orang di sana. Tetapi, tidak jelas di mana Mirayang mendapatkan kulit hewan tersebut.
Kulit hewan purba yang di bawa Mirayang menarik perhatian raja Mesir dan ingin memiliki kulit kepala hewan itu.
"Wahai anak muda sudikah engkau memberikan kulit kepala hewan purba itu untukku" ujar sang raja.
raja berjanji jika Mirayang mau memberikan kulit kepala hewan itu maka raja akan memberikan segala keinginannya.
"Wahai yang mulia raja hamba bersedia memberikan kulit hewan ini kepada yang mulia tanpa balasan apapun hamba ikhlas yang mulia" ujar Mirayang.
Mirayang dengan senang hati mempersembahkan kulit kepala hewan purba itu tanpa meminta balasan apapun. Raja yang sangat senang dengan kemurahan hati Mirayang ia kemudian mengajaknya mengelilingi kota Mesir dan Mirayang juga melaksanakan ibadah haji di kota Mekkah, dan karena itu Mirayang kemudian di beri gelar TGH. Ali Batu dikarenakan jari tangannya yang berubah menjadi batu. Setelah kepulangannya dari Mesir ke pulau Lombok desa Sakra, TGH. Ali Batu sangat di hormati dan disegani oleh masyarakat-masyarakat Lombok,bahkan namanya dikenal sampai tujuh turunan. Setelah beliau wafat pun warga di sana menjadikan makamnya sebagai tempat berziarah dan berdo’a sampai sekarang. Makamnya sekarang di kenal dengan nama makam Batu Bangke.
TAMAT
#Savekemaliq
Komentar
Ahirnya ksampean juga trimakasi penulis alur cerita yang menarik di barengi dgn penulisan yang creatif
Ahirnya ksampean juga trimakasi penulis alur cerita yang menarik di barengi dgn penulisan yang creatif
Good luck...👍
Sy sedikit mengoreksi di bagian penulisan yaitu kata"Fasifik" harusnya ditulis Pasifik bukan Fasifik.
Terimakasih 🙏🏻☺